Reviewed
by Mira Rahmawati (09301244016) Pendidikan Matematika Swadana
Universitas
Negeri Yogyakarta
Sistem pendidikan khususnnya di Indonesia mulai dari tahun 2006/2007,
pemerintah mengacu pada sekolah berbasis kurikulum yang lebih dikenal dengan
istilah KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Kebijakan seperti itu akan menyiratkan beberapa aspek seperti berikut: program otonomi
pendidikan, mengembangkan silabus, meningkatkan kompetensi guru, fasilitas belajar,
anggaran pendidikan, memberdayakan masyarakat, sistem evaluasi dan jaminan
kualitas.
Beberapa aspek tersebut diharapkan akan meningkatkan
tingkat intelektual rakyat dan memajukan kesejahteraan umum sebagaimana
diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945 yang menjadi keprihatinan utama dari
Pemerintah Indonesia. Tujuan dari sistem pendidikan Indonesia adalah
meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT, mengembangkan kecerdasan dan
keterampilan individual, mendorong sikap positif kemadirian dan pengembangan,
memastikan bahwa semua anak bias membaca.
Berdasarkan tujuan tersebut pemerintah sudah beberapa kali
melakukan rekonstruksi sistem pendekatan terhadap masalah pendidikan. Sejak
tahun 1968-1984 sistem pendekatanpun selalu berubah-ubah salah satu
permasalahnnya adalah kurangnya pemahaman guru tentang teori-teori praktek
mengajar yang baik serta penerapannya atau berkembanngnya ilmu-ilmu pendidikan
secara pesat hingga bersaing di era global.
Ilmu matematika khususnnya ditingkat SMP masih rendah,
disebabkan kurangnnya pendekatan, terlalu rumit, kurangnnya penerapan secara
real, serta ketidakcocokan antara tujuan pendidikan, kurikulum, dan sistem evaluasi.
Berdasarkan hal tersebut maka pemerintah pusat telah mengembangkan standar nasional bagi mereka.
Standar Kompetensi Nasional ini kemudian akan diuraikan menjadi Kompetensi
Dasar harus dilakukan oleh siswa, meliputi afektif, kognitif dan psikomotor. Dengan
demikian, Pemerintah Indonesia telah mengembangkan Pembelajaran dan Pengajaran
Kontekstual (CTL) sebagai salah satu pendekatan untuk mendukung implementasi
Sekolah Berbasis Kurikulum, artinya pemerintah mendorong para guru untuk
mengembangkan kecakapan hidup siswa.
Implikasi pelaksanaan sekolah berbasis kurikulum khususnnya
untuk SMP memastikan bahwa pengajarannya
menyenangkan, memulai dengan menggunakan ide-ide yang diungkapkan siswa sebagai
titik awal untuk pelajaran matematika, membuat siswa terlibat dengan aktivitas
matematika sehingga
menciptakan kegiatan yang menantang siswa dan siswa dapat melakukannya sendiri.
Pada dasarnnya siswa belajar dengan baik jika termotivasi
dari lingkungan dia berada. Maka dari itu, seorang guru semestinya bisa
mendampingi atau memberikan kebebasan terlebih dahulu terhadap anak didiknnya
memberikan ide. Setelah itu, jika ide siswa tersebut bisa diterima ataupun ada
tambahannya seorang guru harus memberikan tambahan cara lain dalam
mengkontruksikan soal tetapi dengan metode yang unik agar siswa lebih mengerti
dan pembelajarannyapun tersampaikan dengan baik.
Selain hal tersebut, siswa harus bisa belajar secara mandiri
ataupun berkelompok. Diharapkan siswa mampu bersosialisasi dengan baik. Pada
dasarnnya matematika itu salah satu mata pelajaran yang mengembangkan kesadaran
kepada si pelajar untuk bisa memecahkan masalah
di sekolah, rumah maupun di masyarakat.
Sesuai dengan saran Pemerintah Pusat untuk meningkatkan
kualitas pendidikan matematika dengan cara mendefinisikan kembali peran guru
untuk memfasilitasi siswa untuk belajar, mendefinisikan kembali peran kepala
sekolah untuk mendukung keprofesionalan guru dalam hal menghadiri dan
berpartisipasi dalam karya ilmiah dan pelatihan pendukung pembelajaran,
medefinisikan kembali peran sekolah untuk mempromosikan manajemen berbasis
sekolah, mendefinisikan kembali peran pengawas untuk melakukan
supervisi akademik, serta
mendefinisikan
sistem evaluasi nasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar