Minggu, 11 September 2011

DEVELOPING SCHOOL-BASED CURRICULUM FOR JUNIOR HIGH SCHOOL MATHEMATICS IN INDONESIA BY Dr. MARSIGIT


Reviewed by Mira Rahmawati (09301244016) Pendidikan Matematika Swadana
Universitas Negeri Yogyakarta

Sistem pendidikan khususnnya di Indonesia mulai dari tahun 2006/2007, pemerintah mengacu pada sekolah berbasis kurikulum yang lebih dikenal dengan istilah KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Kebijakan seperti itu akan menyiratkan beberapa aspek seperti berikut: program otonomi pendidikan, mengembangkan silabus, meningkatkan kompetensi guru, fasilitas belajar, anggaran pendidikan, memberdayakan masyarakat, sistem evaluasi dan jaminan kualitas.
Beberapa aspek tersebut diharapkan akan meningkatkan tingkat intelektual rakyat dan memajukan kesejahteraan umum sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945 yang menjadi keprihatinan utama dari Pemerintah Indonesia. Tujuan dari sistem pendidikan Indonesia adalah meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT, mengembangkan kecerdasan dan keterampilan individual, mendorong sikap positif kemadirian dan pengembangan, memastikan bahwa semua anak bias membaca.
Berdasarkan tujuan tersebut pemerintah sudah beberapa kali melakukan rekonstruksi sistem pendekatan terhadap masalah pendidikan. Sejak tahun 1968-1984 sistem pendekatanpun selalu berubah-ubah salah satu permasalahnnya adalah kurangnya pemahaman guru tentang teori-teori praktek mengajar yang baik serta penerapannya atau berkembanngnya ilmu-ilmu pendidikan secara pesat hingga bersaing di era global.
Ilmu matematika khususnnya ditingkat SMP masih rendah, disebabkan kurangnnya pendekatan, terlalu rumit, kurangnnya penerapan secara real, serta ketidakcocokan antara tujuan pendidikan, kurikulum, dan sistem evaluasi. Berdasarkan hal tersebut maka pemerintah pusat telah mengembangkan standar nasional bagi mereka. Standar Kompetensi Nasional ini kemudian akan diuraikan menjadi Kompetensi Dasar harus dilakukan oleh siswa, meliputi afektif, kognitif dan psikomotor. Dengan demikian, Pemerintah Indonesia telah mengembangkan Pembelajaran dan Pengajaran Kontekstual (CTL) sebagai salah satu pendekatan untuk mendukung implementasi Sekolah Berbasis Kurikulum, artinya pemerintah mendorong para guru untuk mengembangkan kecakapan hidup siswa.
Implikasi pelaksanaan sekolah berbasis kurikulum khususnnya untuk SMP memastikan bahwa pengajarannya menyenangkan, memulai dengan menggunakan ide-ide yang diungkapkan siswa sebagai titik awal untuk pelajaran matematika, membuat siswa terlibat dengan aktivitas matematika sehingga menciptakan kegiatan yang menantang siswa dan siswa dapat melakukannya sendiri.
Pada dasarnnya siswa belajar dengan baik jika termotivasi dari lingkungan dia berada. Maka dari itu, seorang guru semestinya bisa mendampingi atau memberikan kebebasan terlebih dahulu terhadap anak didiknnya memberikan ide. Setelah itu, jika ide siswa tersebut bisa diterima ataupun ada tambahannya seorang guru harus memberikan tambahan cara lain dalam mengkontruksikan soal tetapi dengan metode yang unik agar siswa lebih mengerti dan pembelajarannyapun tersampaikan dengan baik.
Selain hal tersebut, siswa harus bisa belajar secara mandiri ataupun berkelompok. Diharapkan siswa mampu bersosialisasi dengan baik. Pada dasarnnya matematika itu salah satu mata pelajaran yang mengembangkan kesadaran kepada si pelajar untuk bisa memecahkan masalah  di sekolah, rumah maupun di masyarakat.
Sesuai dengan saran Pemerintah Pusat untuk meningkatkan kualitas pendidikan matematika dengan cara mendefinisikan kembali peran guru untuk memfasilitasi siswa untuk belajar, mendefinisikan kembali peran kepala sekolah untuk mendukung keprofesionalan guru dalam hal menghadiri dan berpartisipasi dalam karya ilmiah dan pelatihan pendukung pembelajaran, medefinisikan kembali peran sekolah untuk mempromosikan manajemen berbasis sekolah, mendefinisikan kembali peran pengawas untuk melakukan supervisi akademik, serta mendefinisikan sistem evaluasi nasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar