Filsafat
merupakan pola pikir, berfikir kritis, metode berfikir, macam-macam pikiran,
macam-macam metode berfikir, bentuk-bentuk berfikir dan sebagaian lagi dari
pengalaman kita. Pola fikir yang seperti apa? Pola pikir yang memilah mana baik
dan buruk serta mengkondisikan dengan keimanan yang ada, karena tingkatan yang paling
tinggi dari filsafat adalah spiritual. Manfaat yang dapat diperoleh dari pola
berpikir yaitu mengkedepankan akal logis dan mempelajari kecakapan untuk
berpikir lurus, tepat dan teratur. Dapat
diartikan juga dengan proses rohani atau kegiatan rohani yang berada dalam
rangka bertanya dan berusaha untuk memperoleh jawaban. Berpikir merupakan upaya
untuk memecahkan masalah. Sering juga disebut berpikir refleksif. Berpikir
refleksif berarti terarah/teratur, yakni berpikir untuk menjawab pertanyaan
yang terus menerus menjadi pusat perhatian.
Ketika mempelajari metode filsafat yang disampaikan oleh
Bapak Dr.Marsigit pada perkuliahan filsafat kemarin, kita diajarkan untuk
memahami metode hidup sehari-hari yang dirangkum dengan cara filsafat, karena
berfilsafat setiap orang pasti berbeda-beda dan berfilsafat adalah hak setiap
orang. Secara absolute sesuai dengan khadist dan terakhir norma-norma. Selama
kita berfikir urusan manusia itu dunia walau mereka berfikir sedikit tentang
akherat.
Filsafat sebagai metode hidup, yakni pengalaman hidup atau
melakukan pekerjaan di masa kehidupan, seperti kita doa, beribadah, dan bertanya.
Ingin mengetahui filsafat harus banyak pertanyaan atau mengajukan pertanyaan.
Banyak permasalahan dan mencari solusi dari permasalan tersebut serta
memberikan argumentasi untuk permasalahan tersebut itulah metode hidup filsafat.
Bahasa filsafat yang digunakan adalah bahasa analogi yang artinya filsafat
menjelaskan suatu hal atau permasalahan secara analogi melalui peristiwa
tertentu, bukan sekedar kiasan, sindiran ataupun nyindir jika diberikan muatan
negatif. Objek filsafat adalah kendala yang ada dan yang mungkin ada. Di dalam
pikiran dan ada didalam pikiranku yang mengatakan dunia itu urusan manusia atau
urusan fikiran. Setinggi-tingginya kita berpikir, berilmu, kemajuan teknologi,
sombong mempelajari filsafat jangan pernah goyah keimanan kita, karena
perbandingan berfilsafat dan spiritual yaitu 1:10. Jika kita berfikir filsafat
maka kita harus melakukan spiritual sebanyak 10 kali. Jika tidak seperti itu, kita tidak bisa
kembali selamanya tidak akan kembali.
Filsafat
itu peduli dengan ruang dan waktu, aturan, dan komitmen. Ilmu pengetahuan
karena objek dari filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada.
Apa yang dimaksud dengan Ruang. Ruang di sini
adalah dimensi, contohnya dimensi 1,2,3,4 … ruang secara exomatis menurut orang
awam. Aksioma-akismoma menurut Normative. Dengan demikian, material, formal,
normative dan spiritual ini juga dapat dikatakan sebagai ruang. Dosen mahasiswa
itu ruang, maka yang ada dan mungkin ada mempunyai dimensi ruang. Berfilsafat
itu mempunyai keterampilan menembus ruang-ruang yang ada. Kemampuan orang
berbeda sehingga setiap orang dapat menembus ruang dan waktunya masing-masing.
Apa yang
dimaskud Waktu. Menurut Immanuel kant yaitu berkelanjutan, berurutan,
berkesatuan. Untuk bisa memahami ruang kita menggunakan waktu, bisa memahami
waktu menggunakan ruang. Jam itu ruang bisa menunjukan waktu, ini pagi atau
sore waktu menunjukan ruang. Kita wujudkan menurut filsafat secara normative.
Ada 2 macam
metologi jika menebus ruang dan waktu, yaitu:
1. Pemahaman
kita tentang phenomenology
Tokohnya
Huseer, idealisasi dan abstraksi. Idealisasi menganggap sempurna sifat yang ada
karena di dunia itu tidak ada yang sempurna. Abstraksi adalah kodrat manusia.
Abstraksi itu reduksi. Jadi akan
berkaitan anatara idealisasi dengan abstraksi.
Setiap hari kita melakukan reduksi, kita bisa
melihat yanga da di depan kita tetapi dibelakangmu tidak. Untuk memilih mana
yang layak engkau pandang, dan hari ini pandangan kalian memandang dosenmu.
Hakekat
manusia itu reduk (terpilih). Kita mati sudah ditentukan juga. Sudah
korespondensi satu-satu (onto atau bijektif). Namun hidup ini kontradiksi
saling hidup melengkapi diri, misalnya (ilmu anda, gelar anda, isi rumah)
sebenar-benarnya hidup berbarengan dengan kontradiksi.
2. Phondasionalisme
dan antiphodasionalisme (intuisi)
Tokonya
Hilbert, sebelumnya barang siapa yang menetapkan permulaan yang mempunyai
permulaan atau yang mampu mengingat permulaan, maka seluru kaum beragama itu
adalah phondasionalisme atau disebut kausa prima (sebab yang utama) adalah
Tuhan.
Kesombongan
phondasionalisme itu akan membuat berantakan. Apa dampak dari phondasionalisme
dalam kehidupan sehari-hari. Cintaku kepada istriku tidak dapat aku definisikan
dan sampai sekarangpun aku belum bisa mendefinisikan. Cinta itu intuisi. Apa
yang dimaksud dengan Intuisi? Intuisi adalah keberadaan yang tidak bisa
menentukan permulaan, diantaranya;
Sejak kapan anda membedakan besar dan kecil?
Sejak kapan adan membedakan tinggi dan rendah?
Sejak kapan adan membedakan jauh dan dekat?
Dari pertanyaan itu kita tidak dapat menjawabnya. Nah, itu yang
dikatakan intuisi. Hal yang mengganggu intuisi adalah badan tidak sehat, salah
pergaulan, sensitive dan emosi. Jadi hidarilah sebisa mungkin kondisi seperti
itu.
Berfikir
filsafat tidak akan ada habisnya. Karena filsafat itu olah pikir reflesif.
Banyak pertanyaan yangs etiap orangpun dapat menjawabnya dengan filsafatnya
masing-masing, seperti; Apakah hakikat yang membedakan orang yang satu dengan
yang satunya, hakikatnya itu berdimensi setiap yang ada pada dirimu itu berpotensi
membedakan dengan yang ada pada orang lain, salah satu melihat itu dilihat dari
sisi potensinya.
Apakah
perbedaan dari berpikir biasa, ilmiah dan berpikir filsafat, berfikir biasa itu
berpikir orang biasa sumbernya campur,orangnya juga campur tetapi berfikir
ilmiah yang membedakan ialah objek dan metodenya dan berpikir filsafat itu sama
yang membedakan objek dan metodenya. Berpikir biasa itu biasanya tidak
sistematis, pola-pola di dalam berpikir biasa itu tidak berpola sedangkan kalau
berpikir ilmiah itu diperkuat oleh logika dan diperkuat oleh epident, dan
berpikir filsafat itu adalah merangkum dari semua berpikir dan berfilsafat ilmu
dan tidak lepas dari ilmu pengetahuan sedangkan kualitas dari berpikir biasa
itu dapat dipercaya pada kualitas satu.
Mengapa
filsafat tidak bisa lari dari filsafat. Jangankan para filsuf, bagi orang yg
berfikirpun tidak akan lari dari filsafat , bahkan orang yg tidak berfikir
filsafat padahal dia sedang berfilsafat. Filsafat tidak lain tidak bukan adalah
diriku sendiri.
Berapa
banyak kebutuhan yang dibutuhkan oleh filsafat, kebutuhan filsafat masih
banyak selagi dirimu membutuhkan karena
filsafat adalah dirimu sendiri.
Apa
baik dan benar menurut filsafat, Baik dan benar menurut filsafat sampai baik
benarnya silsilah. Berbagai macam kebenaran hati bersifat absolute, sedangkan
kebenaran pikiran bersifat konsistensi.
Apa
penyakit hati menurut filsafat, penyakit hati obatnya dengan berdoa, sedangkan
penyakit filsafat yaitu berinteraksi dengan yang ada dan yang mungkin ada.
Apa
perbedaan tujuan dan cita-cita. Tujuan adalah fakta. Unsur datanya potensi dan
fakta. Anda lahir itulah fakta, potensi adalah fakta yg belum terwujud. Jika
dipikirkan hal itu akan bertingkat-tingkat, seberapa jauh tujuan itu relefan,
tujan hidup sampai tujuan makan. Tujuan pasti berbeda-beda maka terapkanlah hal
tersebut itu tempat berbeda.
Apakah
bisa berfikir tanpa pengalaman?bisa. contohnya; Takut tidak dengan harimau
padahal belum pernah berdekatan dengan hewan itu. Dan adakah pengalaman tanpa
berpikir? gunanya filsafat pengalaman kita dipikirkan. Sebagain besar orang
tidak mampu melakukan pemikiran, sehingga kekuatan orang berpikir jikalau
mereka mau berpikir.
Bagaimana
agar cita sejati biar tidak memudar, jika cinta itu pada Ilahi apalah daya manusia
untuk menuntikan sifat dalam pikiran itu.
Setiap orang mendefinisikan cinta dengan berbeda-beda dan konteksnya.
Dari
uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pembelajaran filsafat kita dapat
mengerti bahwa filsafat itu apa, siapa dan untuk apa. Sebenar-benarnya filsafat
adalah diri kita sendiri. Semua yang ada dan mungkin ada hanya dapat
diselesaikan oleh diri kita sendiri. Bagaimana kita berfikir, memandang suatu
permasalahan, sampai menyelesaikan permasalahan tersebut. Jadi, hidup adalah filsafat kita.