Senin, 14 Januari 2013

FILSAFATKU

          Filsafat merupakan pola pikir, berfikir kritis, metode berfikir, macam-macam pikiran, macam-macam metode berfikir, bentuk-bentuk berfikir dan sebagaian lagi dari pengalaman kita. Pola fikir yang seperti apa? Pola pikir yang memilah mana baik dan buruk serta mengkondisikan dengan keimanan yang ada, karena tingkatan yang paling tinggi dari filsafat adalah spiritual. Manfaat yang dapat diperoleh dari pola berpikir yaitu mengkedepankan akal logis dan mempelajari kecakapan untuk berpikir lurus, tepat dan teratur.  Dapat diartikan juga dengan proses rohani atau kegiatan rohani yang berada dalam rangka bertanya dan berusaha untuk memperoleh jawaban. Berpikir merupakan upaya untuk memecahkan masalah. Sering juga disebut berpikir refleksif. Berpikir refleksif berarti terarah/teratur, yakni berpikir untuk menjawab pertanyaan yang terus menerus menjadi pusat perhatian.
Ketika mempelajari metode filsafat yang disampaikan oleh Bapak Dr.Marsigit pada perkuliahan filsafat kemarin, kita diajarkan untuk memahami metode hidup sehari-hari yang dirangkum dengan cara filsafat, karena berfilsafat setiap orang pasti berbeda-beda dan berfilsafat adalah hak setiap orang. Secara absolute sesuai dengan khadist dan terakhir norma-norma. Selama kita berfikir urusan manusia itu dunia walau mereka berfikir sedikit tentang akherat. 
Filsafat sebagai metode hidup, yakni pengalaman hidup atau melakukan pekerjaan di masa kehidupan, seperti kita doa, beribadah, dan bertanya. Ingin mengetahui filsafat harus banyak pertanyaan atau mengajukan pertanyaan. Banyak permasalahan dan mencari solusi dari permasalan tersebut serta memberikan argumentasi untuk permasalahan tersebut itulah metode hidup filsafat. Bahasa filsafat yang digunakan adalah bahasa analogi yang artinya filsafat menjelaskan suatu hal atau permasalahan secara analogi melalui peristiwa tertentu, bukan sekedar kiasan, sindiran ataupun nyindir jika diberikan muatan negatif. Objek filsafat adalah kendala yang ada dan yang mungkin ada. Di dalam pikiran dan ada didalam pikiranku yang mengatakan dunia itu urusan manusia atau urusan fikiran. Setinggi-tingginya kita berpikir, berilmu, kemajuan teknologi, sombong mempelajari filsafat jangan pernah goyah keimanan kita, karena perbandingan berfilsafat dan spiritual yaitu 1:10. Jika kita berfikir filsafat maka kita harus melakukan spiritual sebanyak 10 kali.  Jika tidak seperti itu, kita tidak bisa kembali selamanya tidak akan kembali.
Filsafat itu peduli dengan ruang dan waktu, aturan, dan komitmen. Ilmu pengetahuan karena objek dari filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada.
Apa yang dimaksud dengan Ruang. Ruang di sini adalah dimensi, contohnya dimensi 1,2,3,4 … ruang secara exomatis menurut orang awam. Aksioma-akismoma menurut Normative. Dengan demikian, material, formal, normative dan spiritual ini juga dapat dikatakan sebagai ruang. Dosen mahasiswa itu ruang, maka yang ada dan mungkin ada mempunyai dimensi ruang. Berfilsafat itu mempunyai keterampilan menembus ruang-ruang yang ada. Kemampuan orang berbeda sehingga setiap orang dapat menembus ruang dan waktunya masing-masing.
Apa yang dimaskud Waktu. Menurut Immanuel kant yaitu berkelanjutan, berurutan, berkesatuan. Untuk bisa memahami ruang kita menggunakan waktu, bisa memahami waktu menggunakan ruang. Jam itu ruang bisa menunjukan waktu, ini pagi atau sore waktu menunjukan ruang. Kita wujudkan menurut filsafat secara normative.
Ada 2 macam metologi jika menebus ruang dan waktu, yaitu:
1.      Pemahaman kita tentang phenomenology
Tokohnya Huseer, idealisasi dan abstraksi. Idealisasi menganggap sempurna sifat yang ada karena di dunia itu tidak ada yang sempurna. Abstraksi adalah kodrat manusia. Abstraksi itu reduksi. Jadi  akan berkaitan anatara idealisasi dengan abstraksi.
Setiap hari kita melakukan reduksi, kita bisa melihat yanga da di depan kita tetapi dibelakangmu tidak. Untuk memilih mana yang layak engkau pandang, dan hari ini pandangan kalian memandang dosenmu.
Hakekat manusia itu reduk (terpilih). Kita mati sudah ditentukan juga. Sudah korespondensi satu-satu (onto atau bijektif). Namun hidup ini kontradiksi saling hidup melengkapi diri, misalnya (ilmu anda, gelar anda, isi rumah) sebenar-benarnya hidup berbarengan dengan kontradiksi.
2.      Phondasionalisme dan antiphodasionalisme (intuisi)
Tokonya Hilbert, sebelumnya barang siapa yang menetapkan permulaan yang mempunyai permulaan atau yang mampu mengingat permulaan, maka seluru kaum beragama itu adalah phondasionalisme atau disebut kausa prima (sebab yang utama) adalah Tuhan.
Kesombongan phondasionalisme itu akan membuat berantakan. Apa dampak dari phondasionalisme dalam kehidupan sehari-hari. Cintaku kepada istriku tidak dapat aku definisikan dan sampai sekarangpun aku belum bisa mendefinisikan. Cinta itu intuisi. Apa yang dimaksud dengan Intuisi? Intuisi adalah keberadaan yang tidak bisa menentukan permulaan, diantaranya;

Sejak kapan anda membedakan besar dan kecil?
Sejak kapan adan membedakan tinggi dan rendah?
Sejak kapan adan membedakan jauh dan dekat?

Dari pertanyaan itu kita tidak dapat menjawabnya. Nah, itu yang dikatakan intuisi. Hal yang mengganggu intuisi adalah badan tidak sehat, salah pergaulan, sensitive dan emosi. Jadi hidarilah sebisa mungkin kondisi seperti itu.
Berfikir filsafat tidak akan ada habisnya. Karena filsafat itu olah pikir reflesif. Banyak pertanyaan yangs etiap orangpun dapat menjawabnya dengan filsafatnya masing-masing, seperti; Apakah hakikat yang membedakan orang yang satu dengan yang satunya, hakikatnya itu berdimensi setiap yang ada pada dirimu itu berpotensi membedakan dengan yang ada pada orang lain, salah satu melihat itu dilihat dari sisi potensinya.
Apakah perbedaan dari berpikir biasa, ilmiah dan berpikir filsafat, berfikir biasa itu berpikir orang biasa sumbernya campur,orangnya juga campur tetapi berfikir ilmiah yang membedakan ialah objek dan metodenya dan berpikir filsafat itu sama yang membedakan objek dan metodenya. Berpikir biasa itu biasanya tidak sistematis, pola-pola di dalam berpikir biasa itu tidak berpola sedangkan kalau berpikir ilmiah itu diperkuat oleh logika dan diperkuat oleh epident, dan berpikir filsafat itu adalah merangkum dari semua berpikir dan berfilsafat ilmu dan tidak lepas dari ilmu pengetahuan sedangkan kualitas dari berpikir biasa itu dapat dipercaya pada kualitas satu.
Mengapa filsafat tidak bisa lari dari filsafat. Jangankan para filsuf, bagi orang yg berfikirpun tidak akan lari dari filsafat , bahkan orang yg tidak berfikir filsafat padahal dia sedang berfilsafat. Filsafat tidak lain tidak bukan adalah diriku sendiri.
Berapa banyak kebutuhan yang dibutuhkan oleh filsafat, kebutuhan filsafat masih banyak  selagi dirimu membutuhkan karena filsafat adalah dirimu sendiri.
Apa baik dan benar menurut filsafat, Baik dan benar menurut filsafat sampai baik benarnya silsilah. Berbagai macam kebenaran hati bersifat absolute, sedangkan kebenaran pikiran bersifat konsistensi.
Apa penyakit hati menurut filsafat, penyakit hati obatnya dengan berdoa, sedangkan penyakit filsafat yaitu berinteraksi dengan yang ada dan yang mungkin ada.
Apa perbedaan tujuan dan cita-cita. Tujuan adalah fakta. Unsur datanya potensi dan fakta. Anda lahir itulah fakta, potensi adalah fakta yg belum terwujud. Jika dipikirkan hal itu akan bertingkat-tingkat, seberapa jauh tujuan itu relefan, tujan hidup sampai tujuan makan. Tujuan pasti berbeda-beda maka terapkanlah hal tersebut itu tempat berbeda.
Apakah bisa berfikir tanpa pengalaman?bisa. contohnya; Takut tidak dengan harimau padahal belum pernah berdekatan dengan hewan itu. Dan adakah pengalaman tanpa berpikir? gunanya filsafat pengalaman kita dipikirkan. Sebagain besar orang tidak mampu melakukan pemikiran, sehingga kekuatan orang berpikir jikalau mereka mau berpikir.
Bagaimana agar cita sejati biar tidak memudar, jika cinta itu pada Ilahi apalah daya manusia untuk menuntikan sifat dalam pikiran itu.  Setiap orang mendefinisikan cinta dengan berbeda-beda dan konteksnya.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pembelajaran filsafat kita dapat mengerti bahwa filsafat itu apa, siapa dan untuk apa. Sebenar-benarnya filsafat adalah diri kita sendiri. Semua yang ada dan mungkin ada hanya dapat diselesaikan oleh diri kita sendiri. Bagaimana kita berfikir, memandang suatu permasalahan, sampai menyelesaikan permasalahan tersebut.  Jadi, hidup adalah filsafat kita. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar